Ketika Parlemen Hanya Untuk Pokir"
"
Parlemen seharusnya menjadi tempat lahirnya gagasan, pengawasan, dan perjuangan terhadap kepentingan rakyat. Namun, ketika fungsi parlemen lebih banyak dipahami hanya sebagai ruang untuk memperjuangkan pokok-pokok pikiran (pokir) demi memasukkan program tertentu ke dalam anggaran, maka ada risiko besar bahwa tujuan utama lembaga perwakilan mulai bergeser.
Pokir pada dasarnya merupakan salah satu cara menyerap aspirasi masyarakat. Ia bisa menjadi jembatan antara kebutuhan rakyat dan kebijakan pemerintah. Namun, jika pokir berubah menjadi sekadar alat untuk membagi proyek, mencari keuntungan kelompok, atau mengutamakan kepentingan tertentu dibanding kebutuhan publik, maka kepercayaan masyarakat terhadap parlemen akan semakin menurun.
Seorang anggota parlemen tidak hanya dipilih untuk membawa usulan pembangunan di daerah pemilihannya, tetapi juga memiliki tanggung jawab lebih besar: membuat regulasi yang baik, mengawasi jalannya pemerintahan, memperjuangkan keadilan, serta memastikan anggaran digunakan untuk kepentingan rakyat luas.
Parlemen yang kuat bukanlah parlemen yang paling banyak membawa proyek, melainkan parlemen yang mampu menghadirkan kebijakan yang berdampak, mengawal transparansi anggaran, dan berani menyuarakan kepentingan masyarakat meskipun tidak selalu terlihat secara langsung.
Sebab ketika parlemen hanya sibuk dengan pokir, rakyat bisa kehilangan harapan bahwa wakilnya hadir untuk memperjuangkan masa depan, bukan sekadar mengatur pembagian anggaran.