Ketika Azan Hilang dari Pendengaran
Admin
... menit baca
Renungan tentang kematian, waktu, dan kesempatan untuk kembali kepada Allah.
Ada saatnya dalam hidup, azan yang setiap hari kita dengar tidak lagi terdengar oleh telinga kita. Bukan karena masjid berhenti mengumandangkannya, melainkan karena perjalanan hidup kita telah sampai pada batasnya.
Hari ini kita masih mendengar azan Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, dan Isya. Kita masih memiliki kesempatan untuk melangkah menuju masjid, bersujud, memohon ampun, dan memperbaiki diri. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa suatu hari nanti, azan akan tetap berkumandang, sementara kita hanya tinggal nama dalam kenangan?
Ketika kematian datang, jabatan tidak lagi berarti. Harta tidak mampu membeli tambahan waktu. Popularitas tidak dapat menahan kepergian. Orang-orang yang dahulu memuji kita mungkin perlahan melupakan nama kita, tetapi amal kebaikanlah yang kita harapkan menjadi bekal menghadap Sang Pencipta.
Yang paling menyedihkan bukan ketika azan berhenti terdengar, melainkan ketika kita masih mampu mendengarnya, tetapi hati kita tidak lagi tergerak untuk memenuhi panggilannya.
Kita sering menunda salat karena pekerjaan, menunda meminta maaf karena gengsi, menunda berbuat baik karena merasa masih memiliki banyak waktu. Padahal, tidak seorang pun mengetahui kapan kesempatan terakhirnya akan berakhir.
Kematian tidak menunggu kita menjadi kaya. Kematian tidak menunggu kita menjadi tua. Dan kematian tidak meminta izin ketika waktunya tiba.
Maka, sebelum azan terakhir yang kita dengar menjadi kenangan bagi orang-orang yang kita tinggalkan, mari memperbaiki hubungan dengan Allah, berbuat baik kepada sesama, menghormati orang tua, menyayangi keluarga, dan meninggalkan jejak kebaikan di dunia.
Sebab pada akhirnya, kita semua akan kembali. Bukan membawa apa yang kita kumpulkan, melainkan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan.
Renungan penutup:
“Suatu hari nanti, azan akan tetap memanggil manusia untuk bersujud. Namun, mungkin nama kita sudah disebut dalam doa, bukan lagi sebagai orang yang hadir di saf, melainkan sebagai seseorang yang telah lebih dahulu pulang menghadap Allah.”
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, dan mengaruniakan kepada kita akhir kehidupan yang husnulkhatimah. Amin.
Sebelumnya
...
Berikutnya
...