uLSN08P13StNRpu8zdLBsXY8k4kNVrJ45iKXYMFb
Bookmark

PROF. DR. SAFWAN IDRIS, M.A.: MUTIARA DARUSSALAM YANG GUGUR, CAHAYA ILMUNYA TAK PERNAH PADAM



**Ulama, Akademisi, dan Pejuang Perdamaian dari Tanah Aceh**

 **Oleh: Azhari, S.Sy., M.H.**

### Dari Siem, Darussalam, untuk Masa Depan Aceh

Sejarah Aceh tidak hanya ditulis melalui perjuangan di medan perang, tetapi juga melalui keteguhan ulama, kecerdasan para akademisi, dan keberanian orang-orang yang memilih jalan perdamaian di tengah pertikaian.

Salah satu nama yang patut terus dikenang dalam perjalanan sejarah Aceh adalah **Prof. Dr. Safwan Idris, M.A.**, seorang ulama, akademisi, dan tokoh pendidikan yang mengabdikan hidupnya bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta masa depan generasi Aceh.

Lahir pada 5 September 1949 di Gampong Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Safwan Idris tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memiliki tradisi keilmuan Islam. Darussalam bukan sekadar tempat kelahirannya, melainkan tanah yang ikut membentuk perjalanan intelektual dan pengabdiannya.

Dari lingkungan yang dekat dengan tradisi ulama dan pendidikan agama, tumbuh seorang putra Aceh yang kemudian melangkah melampaui batas daerahnya. Ia menekuni ilmu agama, mengembangkan pendidikan modern, dan membawa nama Aceh ke lingkungan akademik internasional.

### Ulama yang Memadukan Kitab Kuning dan Ilmu Modern

Keistimewaan Safwan Idris terletak pada kemampuannya mempertemukan tradisi keilmuan Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Baginya, ilmu agama dan ilmu umum bukanlah dua dunia yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan berdampingan untuk membangun manusia yang beriman, berpengetahuan, dan memiliki tanggung jawab sosial.

Perjalanan pendidikannya menunjukkan kesungguhan tersebut. Setelah menempuh pendidikan Guru Agama, ia melanjutkan studi di IAIN Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala. Di tengah kesibukan belajar dan mengajar, ia juga memperdalam ilmu agama di Dayah Darul Ulum, Lueng Ie, Aceh Besar.

Pada 1977, ia memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan ke University of Wisconsin–Madison, Amerika Serikat. Ia meraih gelar Master of Arts pada 1978 dalam bidang ilmu perpustakaan dan gelar doktor pada 1982 dalam bidang kebijakan pendidikan.

Perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa putra daerah mampu menembus dunia akademik internasional tanpa harus kehilangan akar budaya dan tradisi keilmuannya.

**Inilah pelajaran sejarah yang penting bagi generasi muda Aceh: semakin tinggi ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk memberikan manfaat kepada masyarakat.**

### Darussalam dan Tanggung Jawab Membangun Peradaban

Nama Darussalam memiliki tempat tersendiri dalam sejarah pendidikan Aceh. Dari kawasan inilah tumbuh berbagai institusi pendidikan dan tradisi intelektual yang melahirkan banyak tokoh.

Safwan Idris menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Sebagai dosen dan kemudian Rektor IAIN Ar-Raniry, ia berada dalam posisi strategis untuk mengembangkan pendidikan tinggi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan membuka kesempatan belajar yang lebih luas.

Kepemimpinan akademik bukan semata-mata tentang jabatan. Ia juga menyangkut keberanian mengambil keputusan, membangun institusi, dan memastikan bahwa pendidikan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Warisan seorang akademisi tidak hanya diukur dari gelar yang diperoleh atau jabatan yang pernah diduduki, tetapi juga dari ilmu yang diwariskan, kesempatan yang dibuka, dan generasi yang berhasil dibimbing.

### Suara Perdamaian di Tengah Konflik Aceh

Ketika Aceh dilanda konflik berkepanjangan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), masyarakat menghadapi berbagai penderitaan. Ketakutan, kehilangan, dan ketidakpastian menjadi bagian dari kehidupan banyak keluarga.

Dalam keadaan seperti itu, peran ulama dan cendekiawan menjadi sangat penting. Masyarakat membutuhkan suara yang mampu mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak boleh dikorbankan tanpa akhir, dan bahwa perdamaian harus terus diperjuangkan.

Safwan Idris dikenang sebagai tokoh yang menaruh perhatian pada perdamaian dan masa depan Aceh. Ia mewakili harapan bahwa pendidikan, dialog, dan keadilan dapat menjadi jalan untuk keluar dari lingkaran kekerasan.

Sejarah mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu ditunjukkan dengan mengangkat senjata. Ada keberanian lain yang tidak kalah besar: menyampaikan kebenaran, mempertahankan nilai kemanusiaan, dan mengajak pihak-pihak yang bertikai untuk mencari penyelesaian.

Aceh membutuhkan pemimpin yang mampu mendengarkan suara rakyat, ulama yang menjaga persatuan, serta akademisi yang berani menyampaikan pemikiran berdasarkan ilmu dan tanggung jawab moral.

Perdamaian bukan berarti melupakan luka masa lalu. Perdamaian berarti belajar dari luka tersebut agar generasi berikutnya tidak mengalami penderitaan yang sama.

### Tragedi 16 September 2000: Aceh Kehilangan Seorang Guru

Pada 16 September 2000, Safwan Idris meninggal dunia setelah ditembak di kediamannya di Banda Aceh. Peristiwa tragis itu terjadi ketika ia masih menjabat sebagai Rektor IAIN Ar-Raniry.

Kepergiannya merupakan kehilangan besar bagi dunia pendidikan dan masyarakat Aceh. Seorang akademisi yang memiliki pengalaman luas, seorang pemimpin perguruan tinggi, dan seorang tokoh yang diharapkan dapat terus memberikan sumbangan bagi masa depan Aceh telah pergi dalam keadaan yang menyisakan duka mendalam.

Kematian seorang tokoh tidak seharusnya membuat masyarakat berhenti mempelajari gagasan dan pengabdiannya. Justru dari peristiwa tersebut, kita perlu merenungkan betapa pentingnya melindungi kehidupan, menghormati perbedaan, dan menyelesaikan persoalan melalui jalan yang bermartabat.

Peluru dapat mengakhiri kehidupan seseorang, tetapi tidak otomatis menghapus gagasan, ilmu, dan nilai kemanusiaan yang telah diwariskannya.

### Apa yang Harus Dipelajari Generasi Muda Aceh?

Sejarah Safwan Idris memberikan sejumlah pelajaran penting.

**Pertama, pendidikan adalah jalan perubahan.** Anak-anak Aceh harus memperoleh kesempatan belajar yang layak, baik dalam ilmu agama maupun ilmu pengetahuan modern.

**Kedua, ulama dan akademisi harus hadir di tengah masyarakat.** Ilmu tidak cukup disimpan di ruang kuliah atau majelis pengajian. Ilmu harus menjadi jalan untuk menyelesaikan persoalan sosial dan membangun kehidupan yang lebih baik.

**Ketiga, perdamaian membutuhkan keberanian.** Dialog bukan tanda kelemahan. Sebaliknya, dialog menunjukkan kematangan dalam menghadapi perbedaan dan kesediaan mencari penyelesaian yang adil.

**Keempat, jabatan adalah amanah.** Seorang pemimpin pendidikan harus mengutamakan pengembangan ilmu, kepentingan mahasiswa, dan kemajuan masyarakat, bukan sekadar mempertahankan kedudukan.

**Kelima, sejarah harus diwariskan melalui pendidikan dan keteladanan.** Generasi muda tidak cukup hanya mengenal nama tokoh. Mereka perlu memahami perjuangan, pemikiran, dan nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan sekarang.

### Jangan Biarkan Mutiara Darussalam Terlupakan

Hari ini, ketika Aceh terus menghadapi tantangan pembangunan, pendidikan, kesejahteraan, dan kepemimpinan, pemikiran tentang pengabdian Safwan Idris tetap relevan untuk direnungkan.

Kita tidak boleh membiarkan sejarah para ulama dan akademisi hanya menjadi cerita yang dibaca sesekali, lalu dilupakan. Sejarah harus menjadi sumber inspirasi untuk memperbaiki keadaan.

Darussalam harus terus melahirkan generasi yang berilmu. Perguruan tinggi harus menjadi pusat pemikiran yang kritis dan bertanggung jawab. Para ulama harus tetap menjadi penjaga nilai moral. Sementara para pemimpin harus menjadikan kesejahteraan rakyat dan masa depan generasi muda sebagai tujuan utama.

Mengenang Safwan Idris bukan berarti menempatkannya di atas segala kekurangan manusia. Mengenangnya berarti menghargai pengabdian, mempelajari perjalanan hidupnya, dan melanjutkan nilai-nilai baik yang telah ia tunjukkan.

### Penutup: Ilmu Menjadi Warisan, Perdamaian Menjadi Cita-Cita

Prof. Dr. Safwan Idris, M.A. adalah bagian dari sejarah Aceh yang patut dikenang sebagai ulama dan akademisi. Dari Gampong Siem, ia menempuh perjalanan ilmu hingga Amerika Serikat, lalu mengabdikan pengetahuannya dalam dunia pendidikan Aceh.

Kepergiannya pada 16 September 2000 meninggalkan duka, tetapi perjalanan hidupnya mengingatkan kita bahwa pendidikan dan kemanusiaan harus tetap menjadi fondasi pembangunan.

Aceh tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai berbicara tentang masa lalu. Aceh membutuhkan generasi yang mampu mengambil pelajaran dari sejarah, memperjuangkan pendidikan yang berkualitas, menjaga persatuan, dan membangun perdamaian yang berkeadilan.

**Mutiara Darussalam boleh telah tiada, tetapi cahaya ilmu dan semangat pengabdiannya harus terus hidup dalam hati generasi Aceh.**

Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah beliau, mengampuni segala khilafnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

**Al-Fatihah.**

*Catatan sejarah: Tulisan ini merupakan opini reflektif berdasarkan riwayat yang disampaikan. Untuk penerbitan sebagai tulisan sejarah yang terdokumentasi, rincian garis keturunan, tanggal dan kronologi peristiwa penembakan, riwayat jabatan, serta peran dalam upaya perdamaian sebaiknya diverifikasi melalui arsip resmi, dokumen perguruan tinggi, dan sumber sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.*

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Post a Comment